Kamis, 07 Juni 2012

Donatur Dana Beras untuk Dena Upakara Wonosobo


Donatur Dana Beras untuk Dena Upakara Wonosobo
bulan : Juni 2012
no
Donatur
Rp
keterangan
1
MEGA (17 Orang)
4000.000

2
Lina vino
100.000

3
Aini Johan
100.000

4
Engelica
50.000

5
Vihara Sinar Borobudur Tarakan
1.305.000

6
Lili fatimah
50.000

7
Kiong sui Tjin
50.000

8
Fang fang
50.000

9
ILEN
50.000

10
Ratna
50.000

11
Teresa
50.000

12
Yonny
50.000

13
Gunawan
50.000

14
Tatang wijaya
200.000

15
Ayung
100.000

16
Henely
250.000

17
Oi Lin
===========

18
Vily
100.000

19
Juliana
50.000

20
Agus
-

21
Erni
50.000

22
Andy
100.000

23
Lady Diana & Elany
100.000

24
Edy Ping
150.000

25
Susi Liaunardy
500.000

26
Sunardy
50.000

27
Ratih
200.000

28
Jan Khim
300.000

29
Agnes
100.000


TOTAL
8.205.000


Partisipant*
3.200.000



11.405.000

·         Hartono                                                         : Rp 1.000.000
·         Ong, Beby, Bobby, bella                                : Rp 1.200.000
Indra&Ning                                                    : RP 1.000.000
TOTAL=========================> Rp 3.200.000

dari Yayasan Dena Upakara



Bu Melly dan Sahabat-sahabat kami ytk.,

Bersama ini saya kirimkan Nota-nota belanja membeli beras untuk bulan Maret - Mei 2012. Semoga bisa diterima dengan baik.
Terima kasih atas cinta, perhatian, dukungan dan bantuannya untuk kami.
Berita Gembira!!!
Berkat bantuan bapak, ibu dan saudara-saudariku ytk. anak-anak kami yang SMPLB bisa lulus 100% dengan nilai yang baik.
Selain itu, kemarin tanggal 6 Juni anak-anak maju lomba Olimpiade ke IPA dan Wirausaha ke tingkat Propinsi semua mendapat  juara I.
Semua itu berkat dukungan dan bantuan dari bapak, ibu dan saudara/i ytk. Terima kasih atas bantunya.
Tuhan memberkati dengan berkat melimpah, selalu sehat, lancar dalam usaha dan rejekinya. 


Salam kasih kami & doa,
Keluarga Besar Yayasan  Dena-Upakara
Sr. Yuli PMY



LAPORAN PERTANGGUNGJAWABAN
DANA BANTUAN BERAS
UNTUK ANAK-ANAK TUNARUNGU DENA-UPAKARA
WONOSOBO
TANGGAL
KETERANGAN
DEBET
KREDIT
SALDO
15/03/2012
Bantu lewat bank
     8,000,000


17/03/2012
Nota 1




Beli beras Barito 950 kg

   8,000,000
                  -





19/04/2012
Bantuan dana beras
     8,950,000

    8,950,000
20/04/2012
Nota 2




Beli beras Barito 1000 kg

   8,400,000
       550,000

Beli beras ketan 25 kg

      295,000
       255,000





10/05/2012
Bantuan dana beras
   10,250,000

  10,505,000
12/05/2012
Nota 3




Beli beras Cihera 1000 kg

   8,300,000
    2,205,000

Beli beras ketan 25 kg

      295,000
    1,910,000







   27,200,000
 25,290,000
    1,910,000
nota beras Dena Upakara


Rabu, 06 Juni 2012

Tidak salah lagi berkunjung ke “ SEKOLAH KAMI “








Pertemuan  aku dengan Ibu Irina sungguh memberiku segudang semangat, dan rasanya transfusi semangat seketika mesrasuk dalam jiwaku.
Jujur ketika dia menyebutkan  dirinya sebagai pengumpul anak-anak pemulung langsung terbersit ketidak bersihan  yang akan melekat dalam diri anak-anak tersebut.
Namun ada rindu untuk bisa melakukan bersama dengan dewi yang berhati malaikat itu. Pertemuan pertamaku sudah jatuh hati pada penampilannya yang kocak dan penuh dengan kesederhanaan dan hati kecilku berkata bahwa aku harus berkunjung ke tempatnya.

Jadilah kami janjian ketemu dan beliau minta aku sharing dengan anak-anaknya bagaimana  menjadi anak yang punya etika dan moral yang baik.
Kemarin tepatnya tanggal 5 Juni aku berkunjung dengan bekal informasi alamat yang nggak karu karuan dan  sangat sulit, tapi berkat usaha keras juga akhirnya kami sampai ditempat tujuan.
Pertama menginjakkan kaki ada rasa tidak percaya dengan kondisi yang sedemikian  bagusnya menurut ukuran  kacamataku dengan statusnya yang “pemulung” namun setelah melihat piagam piagam penghargaan dan foto-fotonya aku baru yakin dan malahan ada rasa ingin mempunyai tempat senyaman itu dalam hatiku.

Tidak lama kemudian tibalah sahabatku yang disambut dengan penuh kehangatan dan rasa hormat oleh karyawannya dan guru gurunya. Dalam hati pengen bersungut karena tidak sesuai dengan janjinya yang akan mengajak kami sarapan bersama.
Dan acara berbagipun tdk lama kemudian kami mulai, sungguh ada rasa haru melihat semangat anak-anak itu yang punya cita-cita dan mimpi untuk masa depannya yang lebih baik.Namun masih ada rasa tidak percaya diri yang melekat dengan kemiskinan yang nyata.Tetapi semuanya pelan-pelan beralih ketika suntikan semangat menjadi pemenang ditembakkan ke mereka.Haru dengan keceriaan anak-anak itu yang bukan hanya semangat doang, namun sahabatku sungguh mengerti bagaimana membawa anak-anak itu terbang keluar dari keterpurukan. Anak-anak itu dibekali pelajaran lifeskill dan mereka sangat piawai dalam menghasilkan sesuatu.

Rasanya tidak ada yang bisa aku bantu, dan akupun tidak mampu lagi membantu, karena apapun yang ingin aku lakukan sudah dilakukan mereka dengan sangat luar biasa,dalam hati ingin mencontek apa yang bisa kami lakukan demi hidup anak-anak yang lebih baik tentunya.

Salam peduli anak

Melly kiong 

Jumat, 25 Mei 2012

Indonesia Disabled Care Comunity



Bermula  dari perkenalanku dengan Ibu Endang Setyati ibunda tercinta Habibie dalam komunitas Macibaku ( masyarakat Cinta baca dan bagi buku yang diprakarsai oleh Bp.Eddy Zaqeus ).
Sejak kopdar pertama aku begitu terpesona dengan kegigihannya dalam  memperjuangkan hak anaknya yang berkebutuhan khusus. Semangat dan cintanya yang terlihat begitu nyata membuat diri ini ingin  lebih banyak belajar khususnya dalam  memperjuangkan hak anak-anak yang berkebutuhan khusus spt Habibie.
Sungguh rasanya ada yang bisa digerakkan bersama mengingat semangat dari Rumah Moral yang saya bangun juga selalu memperjuangkan yang kurang, baik dari sisi mental, ekonomi, kesehatan maupun  fisik.
Akhirnya kami diundang pada acara peluncuran web  IDCC ( Indonesia Disabled Care Comunity)  yang diprakarsai mahasiswa dari beberapa universitas di Jabodetabek dan ditodong pula jadi pembicara.

Sungguh sebuah keberuntungan saya bisa berkenalan dengan Pak Nestor ( wartawan  senior  yang memaparkan betapa banyaknya dosa dari media yang tidak ikut memberitakan informasi tentang anak anak disable , Pak Daming dengan kekurangan di penglihatan secara permanen masih bisa sekolah tinggi dan berkarya memperjuangkan hak anak-anak di KOMNAS anak, dan juga Bu Erna dkk serta banyak lagi anak-anak tuna rungu yang begitu percaya diri bergabung dengan masyarakat umum.

Langsung terbersit Rumah Moral akan menjadi bagian dari mereka dengan program lifeskill yang mudah mudahan akan direalisasikan dalam waktu yang tidak lama .
Karena konsep kami hanya sebagai team support .

Tetapi yakin ada yang bisa kami usung untuk kedepannya.


Selamat dan sukses untuk  IDCC , yakinlah bahwa komunitas ini jika bersatu, maka  akan berbuat banyak bagi negri ini.


Salam
Melly kiong

Senin, 21 Mei 2012

Catatan Sahabat


 MELLY KIONG DAN KEPEDULIAN KITA


SETELAH berulang kali me-reschedule janji pertemuan, akhirnya Rabu, 2 Mei 2012 lalu, saya bisa makan siang bareng dengan Melly Kiong – penggagas Rumah Moral dan Center of Motherhood, seorang ibu hebat yang sudah menelorkan sejumlah buku tentang parenting, di antaranya “Siapa Bilang Ibu Bekerja Tidak Bisa Mendidik Anak dengan Baik”.
Berada di dekat Bu Melly, seperti berada di sebuah medan magnet yang memancarkan aura positif. Dan orang-orang yang berada di sekitarnya tidak bisa menghindar. Semangat, cinta, kepedulian, kehangatan, melebur. Menarik kita untuk masuk ke dalam pusarannya.
Kata apa yang tepat untuk menggambarkan sosok Bu Melly?  Masing-masing orang mungkin punya pendapat sendiri. Tapi buat saya, yang paling mengesankan, karena dia melakukan aksi nyata, kongkret. Melakukan hal-hal yang dibagikannya ke orang lain. Saya sudah banyak bertemu dengan banyak sosok yang mengaku peduli, atau berbusa-busa menyampaikan teori dan motivasi yang paling ‘sempurna’ untuk melakukan sesuatu hal. Tapi hanya sebatas wacana. Hanya untuk kepentingan ‘pencitraan’. Tapi Bu Melly berbeda. Ia melakukannya – dimulai dari hal-hal sederhana, kecil, tapi konsisten. Dan akhirnya yang kecil itu, menjadi bukit.
Soal bukunya, misalnya. Apa yang ditulisnya berangkat dari pengalaman. Bukan dari kepiawaian memainkan kalimat atau memainkan persepsi dan kondisi piskologis pembaca. “Saya lahir dari keluarga miskin, sehingga kurang perhatian dari orangtua. Dan ketika ayah saya sudah tidak ada, saya sungguh-sungguh kasihan pada ibu saya yang bekerja keras untuk menghidupi kami. Sejak itu saya berjanji untuk mengubah hidup keluarga saya. Saya tidak boleh mengulang  jalan hidup ibu,” kisahnya terus-terang. Karena itu ia bekerja keras. Dengan bekal ijazah SMA, ia memutar otak bagaimana agar bisa mencari uang namun tanpa harus meninggalkan tanggung jawabnya sebagai ibu yang bisa mendidik putranya dengan baik.

Bu Melly sungguh pemerhati dan pengarsip yang sabar. Satu-satu, benda-benda kenangan dari setiap fase pertumbuhan anaknya disimpan dan dirawatnya dengan baik. Dari gigi yang copot, coretan pertama di kertas gambar, hingga tiket pesawat ketika berlibur bersama keluarga. Benda-benda itu begitu bermakna: menandai fase pertumbuhan anak, menjadi alat kontrol saat dia secara fisik berada jauh dari jangkauan putranya, sekaligus menjadi perekat kasih-sayang antara anak dan orangtua. Bayangkanlah, bagaimana  berbagi kisah dengan anak-anak tentang peristiwa di waktu lalu dengan menatap benda-benda kenangan...
Itu hanya sisi lain. Di sisi lainnya, bu Melly adalah seseorang yang sangat mudah berempati. Empati dalam pengertian bukan sekadar berhenti pada rasa. Ia peduli. Ia mengulurkan tangan. Melalui Rumah Moral, ia paling tidak menaruh perhatian pada 3 hal: pada anak-anak penderita kanker, penderita down syndrome, dan penderita tuna rungu.
Saat berkunjung ke RS Dharmais, ia memergoki, tidak hanya anak-anak pengidap kanker yang menderita, tapi juga orangtua yang menungguinya. “Mereka stress,” kisahnya. Kanker, menurut bu Melly, adalah penyakit yang sulit diprediksi kapan sembuhnya. “Saya lalu berpikir keras bagaimana agar para orangtua dan anak-anak ini tidak terus-menerus merasa tertekan selama di rumah sakit.” Bu Melly kemudian menawarkan untuk mengisi waktu dengan membuat bros dan jepit rambut dari limbah garmen. “Saya memasarkannya ke mana pun saya pergi!” sambungnya. Kini, kesibukan itu menghasilkan uang yang ia gunakan untuk membeli laptop bagi anak-anak pengidap kanker. “Mereka bisa bermain game dan internet selama dirawat dan saat menjalani kemoterapi, misalnya.”

Di Wonosobo, bu Melly ikut merintis pendirian Salon Dena Upakara. Ini adalah salon yang dikelola orang-orang tuna rungu. “Modal pendiriannya dari hasil membuat dan menjual masker – yang juga dari limbah garmen, dan bantuan seorang teman,” ujarnya. Sementara untuk anak-anak penderita keterbelakangan mental, ia juga mengajarkan life skill. “Kami membuat hiasan yang ditempelkan di pintu kulkas. Bahannya dari limbah pabrik furniture,” kisahnya bersemangat.
 
Bagi bu Melly, jauh lebih penting dari sekadar memberi ‘kail’ kepada anak-anak itu, adalah keinginannya untuk membangun mental juang mereka. “Keterbatasan tidak harus membuat mereka menyerah, tidak boleh menghalangi mereka berkarya.” Ia memang sangat gigih untuk menularkan semangat pantang menyerah. Menurutnya, hanya dengan cara ini kita bisa bermimpi melahirkan generasi emas Indonesia.
Nah, bu Melly sudah memulai. Kapan giliran Anda? *** 

Catatan:
Oya, bagi sahabat-sahabat yang ingin membeli hasil kerajinan tangan anak-anak tuna rungu, down syndrome dan orangtua dari anak-anak penderita kanker, sampaikan pesan Anda di kolom komentar, ya. Gak mahal-mahal kok. Untuk bros misalnya, hanya 10.000 rupiah per biji. Semoga bisa menjadi ladang amal bagi kita semua. Amin.